Pesantren Al-Azhar




Oleh : Hariri Hady
Pendiri Yayasan Pesantren Islam Al Azhar

Jika pada 1952 saya adalah pendiri dan pengurus yang paling muda, sekarang saya adalah pengurus Al-Azhar yang paling tua. seperti diketahui, pendiri YPI Al-Azhar ada 14 orang. Semuanya telah dipanggil oleh Allah subhanahu wa ta'ala, kecuali saya yang sekarang menjadi yang tertua. Sebagai satu-satunya pendiri yang masih menyertai YPI Al-Azhar, saya mencatat dengan penuh rasa syukur kepada Allah subhanahu wata'ala perkembangan amal usaha YPI Al-Azhar yang makin luas, baik secara vertikal maupun horisontal. Berbagai amal usaha di bidang dakwah dan sosial, pendidikan, dan Iain-lain, telah dirasakan manfaatnya oleh umat dan bangsa, telah mendapat tempat yang terhormat di hati masyarakat, dan memiliki kualitas yang sungguh membanggakan.
Kendatipun demikian, saya merasa masih ada cita-cita para pendiri YPI yang belum mampu diwujudkan, yaitu mendirikan pesantren. Mendirikan pesantren di tengah kota itulah tekad para pendiri YPl. Dan tekad itu diabadikan dalam nama badan hukum yang dibentuk: Yayasan Pesantren Islam.
Walikota Jakarta Raya, Raden Sjamsuridjal, selaku pemerakarsa pembangunan Masjid Agung Al-Azhar, pada 27 Mei 1956 menyurati Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga, memberitahukan rencana mendirikan pesantren di sekitar Masjid Agung. Rencana itu ditolak, dengan alasan akan mengganggu keindahan dan kemegahan Masjid Agung.
Wakil Perdana Menteri pada Kabinet Wilopo (1952-1953), Prawoto Mangkusasmito, malah sudah memiliki obsesi sendiri mengenai rencana mendirikan pesantren di sekitar Masjid Agung itu. Pak Prawoto yang pada tahun 1952 itu bersama Mr. Mohamad Roem, Mr. Jusuf Wibisono, Ismael Hasan, Yusli Gazhali, Wartono, Jamilus Nurut, Mr. Sindian Djajadiningrat, dan saya sendiri sebagai yang paling muda mendirikan Yayasan Asrama dan Pendidikan Islam (YAPI) di daerah Rawamangun; menghendaki bangunan pesantren di sekitar Masjid Agung yang akan menjadi rumah tinggal Kiai, dan santri itu arsitekturnva bercorak kedaerahan, sehingga mencerminkan Ke-Indonesia-an. Obsesi Pak Prawoto itu kira-kira seperti Taman Mini Indonesta Indah.
Keinginan mendirikan pesantren di sekitar Masjid Agung Al-Azhar tampaknya makin mustahil diwujudkan mengingat Pemerintah Provinsi
Jakarta tidak mengizinkan di sekitar Masjid Agung Al-Azhar ada bangunan tambahan selain bangunan yang sudah ada di sayap kanan dan kiri Masjid karena akan mengganggu daerah resapan air saat hujan turun



Buku : Enam Puluh Tahun YPI Al Azhar (7 April 1952 - 7 April 2012)
Penulis : Lukman Hakiem

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Pesantren Al-Azhar "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel