Perjalanan Enam Puluh Tahun









Sebagai lembaga yang dinamis, YPI -yang kemudian bernama lengkap YPI Al-Azhar -- terus menerus membuka dirinya terhadap perbaikan dan perubahan, baik itu menyangkut personal maupun menyangkut rumusan tujuan sebagai sebuah cita-cita. Tujuan YPI yang dirumuskan pertama kali pada tahun 1952, misalnya, dari waktu ke waktu terus mengalami penyempurnaan rumusan. Demikian juga dengan orang-orang di belakang kemudi YPI.
Ketika pada tahun ini YPI sampai pada usia ke-60, tentulah semua itu merupakan hasil kerja keras dan kerja cerdas berkesinambungan antara pengurus yang satu ke pengurus yang lain, dari priode ke periode melintasi zaman demi zaman.
Tokoh-tokoh di belakang kemudi YPI, pastilah memiliki gaya tersendiri di dalam mengemudikan Yayasan ini. Dengan gayanya masing-masing, para pengurus YPI sama bertekad memberikan kehidmat terbaik kepada umat Islam "didalam maupun di luar milayah Republik Indonesia di bidang sosial, kemanusiaan dan keagamaan".
Selama 60 tahun, YPI Al-Azhar telah bekerja keras mewujudkan janji pembentukannya. Jika di awal pembentukanya, YPI baru akan memiliki sebidang tanah sebagai hibah dari pemerintah, maka beberapa tahun kemudian di atas tanah itu telah berdiri sebuah Masjid yang oleh masyarakat disebut Masjid Agung Kebayoran Baru. Jika pada mulanya di masjid itu hanya berlangsung pendidikan informal berupa majlis ta'lim di bawah bimbingan buya HAMKA, pada perkembangan berikutnya atas prakarsa jama'ah Masjid Agung diselenggarakan pendidikan nonformal Madrasah Diniyah untuk anak-anak jamaah Masjid Agung Al-Azhar dan kaum dhu'afa di sekitar Maajid Agung yang diadakan pada sore hari di bawah tangga masjid sebelah utara.
Dari semulanya hanya menyelenggarakan pendidikan informal, YPI Al-Azhar meningkatkan perkhidmatannya kepada umat dengan menyelenggarakan pendidikan nonformal. Pendidikan nonformal Madrasah Diniyah itu kemudian dilengkapi dengan diselenggarakanya Taman Kanak-kanak di lingkungan Masjid Agung Al-Azhar.
 Di usianya yang ke-60, dengan rendah hati kita mencatat prestasi YPI Al-Azhar yang telah paripurna menyelenggarakan jalur, jenjang, dan jenis pendidikan seperti di atur dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. YPI Al-Azhar telah menyelenggarakan pendidikan mulai dari Kelompok Bermain, Taman Kanak-kanak sampai Perguruan Tinggi.
Menilik perjalanan YPI Al-Azhar selama 60 tahun ini, ternyata perstasi atau perkembangannya tidak semata vertikal seperti telah digambarkan di atas, melainkan juga horisontal berupa terjalinnya kerjasama dalam takwa dan kebajikan dengan berbagai fihak yang satu visi dan missi dengan YPI Al-Azhar.
YPI Al-Azhar yang berbasis di Masjid Agung Al-Azhar, telah berusaha keras untuk membuktikan dan mewujudkan di dalam kenyataan bahwa masjid sungguh-sungguh merupakan pusat ibadat dan kebudayaan Islam. Dalam kerangka ini, maka aktivitas YPI Al-Azhar tidak berhenti pada pendidikan menurut jalur, jenjang, dan jenisnya, tetapi merambah ke bidang-bidang lain seperti pembangunan sumber dana bagi kegiatan umat, menginisiasi pembentukan Lembaga Amil Zakat (LAZ) Al-Azhar Peduli Umat Wakar Al-Azhar yang mendorong pemanfaatan wakaf produktif, membentuk perusahaan jasa yang dikelola secara profesiaonal yang sebagian labanya diharapkan dapat dimanfaatkan untuk kemajuan YPI Al-Azhar. Last but not least, dengan partisipasinya dalam berbagai aktivitas keumatan, YPI Al-Azhar tetap berada di garda depan di dalam menyuarakan aspirasi umat.
Dalam kerangka ini, YPI Al-Azhar telah memberi peluang yang besar bagi pengembangan para pemuda pemilik masa depan bangsa melalui pembentukan wadak aktivitas para pemuda di lingkungan Masjid Agung Al-Azhar seperti Youth Islamic Studi Club (YISC), Al-Azhar Seni Bela Diri (ASBD), dan Pecinta Alam Al-Azhar.
Alhamdulilah, dari baebagai wadah yang disiapkan oleh Al-Azhar telah lahir tokoh-tokoh seperti Yusril Ihza Mahendra (mantan mentri di beberapa kabinet), aktivis ASBD yang pada kepengurusan YPI Al-Azhar 1995-1998 duduk sebagai anggota, Jimly Asshiddiqie (mantan Ketua Mahkamah Konstitusi), aktivis YISC yang pada kepengurusan YPI Al-Azhar periode 2007-2012 duduk sebagai Wakil Ketua Pembina, Adhyaksa Dault (Mentri Pemuda dan Olah Raga 2004-2009), alumni SD dan SMP Islam Al-Azhar yang sangat aktif dalam kegiatan Pecinta Alam Al-Azhar dan pada kepengurusan YPI Al-Azhar periode 2007-2012 duduk sebagai Ketua Badan Pengawas, Hj. Yulianti Roshida putri Mentri Agama (pada Kabinet Boeharnoeddin Harahap, Kabinet Ali-Roem-Idham, dan Kabinet Djuanda) K.H. Muhammad Iljas (1911-1970), aktivis YISC yang kini menekuni profesi sebagai Notaris/PPAT, dan aktivis YISC Lukman Hakim Saifuddin, Wakil Ketua MPR-RI periode 2009-2014.
Banyak juga alumni sekolah Al-Azhar yang terus memberikan pengabdian terbaiknya kepada umat dan bangsa. Sebagai contoh, kita bisa menyebut Dino Pati Djalal yang sekarang menjadi Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat, Ferry Mursyidah Baldan (Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam, PB-HMI periode 1992-1994 dan anggota DPR-RI 1997-2009), dan M. Lutfi (Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal) yang kini menjabat sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Kekaisaran periode 2004-2009, jepang.
Selain para aktivis wadah kegiatan dan alumni sekolah Al-Azhar, kita mencatat juga para mahasiswa perantau yang pernah tinggal di asrama Masjid Agung Al-Azhar . Sekadar menyebut contoh, salah seorang yang pernah tinggal di asrama Masjid Agung Al-Azhar adalah Dr. Nurcholis Madjid(1939-2005). Nurcholis tinggal di asrama Masjid Agung Al-Azhar dari 1963 sampai menjelang nikah pada 1969. Juga Mahfudh Makmun (lahir 1942) yang dalam kepengurusan YPI Al-Azhar periode 2007-2012 diberi amanah sebagai ketua yang membidangi Pendidikan.





Buku : Enam Puluh Tahun YPI Al-Azhar (7 April 1952 - 7 April 2012)
Bab : I
Penulis : Lukman Hakiem

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Perjalanan Enam Puluh Tahun"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel