-->

Menoleh kebelakang menatap masa depan








Terbitnya buku ini, menandai genap enam puluh tahun Yayasan Pesantren Islam (YPI), 7 April 1952 - 7 April 2012, YPI inilah yang kelak dikenal dengan nama lengkap Yayasan Pesantren Islam Al Azhar, sesudah pada akhir 1960 Masjid yang dibangun atas prakarsa YPI yang semula lebih dikenal dengan nama "Masjid Agung Kebayoran" , memperoleh nama "Al-Azhar" dari syaikh al-Azhar Kairo, Mesir, Prof. Mahmoud Syaltout. Nama Al-Azhar yang semula untuk nama "Masjid Agung Kebayoran"  pun akhirnya dilekatkan pada nama Yayasan Pesantren Islam.
Telah menjadi pengetahuan bersama, pembentukan YPI tidak dapat dilepaskan kaitanya dengan rencana pemerintah Kotapraja Jakarta Raya untuk mengembangkan kota jakarta dengan membangun Kota Satelit Kebayoran. Dalam rangka itu, Walikota Jakarta Raya Sjamsuridjal (1903-1964) menyiapkan berbagai fasilitas diatas tanah seluas 730 hektar.
Mendengar rencana tersebut, sekelompok masyarakat dari agama tertentu meminta kepada pemerintah agar disiapkan sebidang tanah di Kota Satelit untuk dibangun sarana ibadah bagi para penganut agama tersebut. Permintaan ini, bukanlah permintaan yang keliru. Bahkan sudah seharusnya demikian, mengingat sesungguhnyalah relijiusitas merupakan jati diri bangsa Indonesia.
Pemerintah rupanya menyadari juga keabsahan permintaan tersebut, dan berfikir jika satu kelompok agama tertentu diberi fasilitas untuk membangun rumah dan atau fasilitas peribadatan, maka kepada kelompok agama lainharus juga diberikan fasilitas yang sama secara proporsional sesuai dengan jumlah penganut agama masing-masing.
Dalam rangka itulah, mentri sosial Dr. Sjamsuddin mengundang sejumlah tokoh islam untuk mendiskusikan rencana pemerintah memberikan dana sosial kepada umat Islam untuk membangun fasilitas dan atau rumah ibadah bagi kaum muslimin di Kota Satelit Kebayoran Jakarta Raya. Salah satu ayaratnya, penerima dana sosial tersebut harus berupa badan hukum. Sjamauddin mengusulkan supaya dibentuk Yayasan untuk mengelola dana sosial dari pemerintah itu.
Menyikapi usul mentri sosial, sejumlah tokoh berkumpul di kantor Pengurus Besar Partai Politik Islam Masyumi (selanjutnya ditulis masyumi) jakarta pusat. Mereke yang berkumpul itu adalah:

  • Ghazali Sjahlan (Sekretaris Masyumi Jakarta Raya), 
  • Abdullah Salim (Fungsionaris Masyumi Jakarta dan Kepala Bagian Periklanan Harian Abadi),
  • Soedirdja (Ketua Cabang Muhammadiyah Jakarta), Sardjono (Wakil Walikota Jakarta Raya),
  • Haji Sji'aib Sastradiwirja (pegawai Kotapraja Jakarya Raya),
  • Ganda (pegawai Jawatan Penerangan Jakarta),
  • Haji Sulaiman Rasjid (pegawai Kementrian Agama RI),
  • Karta Pradja (Kepala Sekolah Rakyat di Jakarta), dan
  • Hariri Hady (mahasiswa Universitas Indonesia).

Selain itu hadir sejumlah pengusaha muslim Tan In Hok, Rais Chamis, Hasan Algubie, dan Faray Martak.
Pertemuan di kantor masyumi itu menyepakati untuk membentuk badan hukum bernama Yayasan Pesantren Islam (YPI). Pada Senin, 7 April 1952, oleh Soedirdjo, Tan In Hok, dan Ghazali Sjahlan, kesepakatan itu dibawa ke Notaris Raden Kadiman dan dicatat dalam Akte Notaris No. 25. tanggal 7 April 1952 selanjutnya disepakati menjadi hari kelahiran Yayasan Pesantren Islam (YPI).
Mengapa badan hukum itu diberi nama Yayasan Pesantren Islam (YPI), karna memang sejak semula empat belas pendiri yayasan itu berencana untuk selain membangun Masjid Agung, juga membangun "pesantren (di tengah) kota". Rencana membangun "pesantren kota" itu tidak berlanjut karna tidak mendapat izin dari Pemerintah Kota Jakarta yang menganggap pembangunan pesantren ditengah kota tidak sesuai dengan rencana pengembangan wilayah.
Empat belas tokoh yang bertemu dikantor Masyumi yang mendirikan YPI itu pula yang untuk pertama kalinyamenjadi pengurus YPI. Mereke mambagi tugas seperti berikut: Soedirdja dan H. Sju'aib Sastradiwirja  masing-masing menjadi Ketua dan Wakil Ketua; Ghazali Sjahlan, Abdulah Salim, dan Hariri Hady masing-masing menjadi Sekretaris I, II, dan III; serta Tan In Hok menjadi Bendahara. Sedangkan Rais Chamis, Ganda, Kartapradja, Sardjono, Sulaiman Rasyid, Ja'cob Rasyid, Hasan Algube, dan Faray matak menjadi pembantu.
Untuk pertama kalinya, YPI merumuskan tujuanya seperti tertulis dalam akte No. 25, sebagai berikut:
"Mendirikan atau memperbaiki pesantren-pesantren di tempat-tempat yang dirasa penting di Jawa Barat untuk:
a. Mendidik pemuda-pemudi Indonesia untuk menjadi kader pembangunan Akhlak guna kesejahtraan Negara Republik Indonesia;
b. Mendidik pemuda-pemudi Indonesia agar dapat menjadi alat negara yang berjiwa beraih dan auci;
c. Mendidik pemuda-pemudi Indonesia agar dapat menjadi missi(muballigh) Islam di belakang hari."

Buku : Enam Puluh Tahun YPI Al-Azhar (7 April 1952 - 7 April 2012) 
BAB : I
Penulis: Lukman Hakiem

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Menoleh kebelakang menatap masa depan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel