Dari Masa ke Masa | Periode Soedirdja


Kasman Singodimedjo 
Badan Komisaris YPI

Seperti telah diuraikan di Bab 1 Pendahuluan, untuk menyahuti rencana pemerintah memberikan dana sosial kepada umat Islam untuk membangun fasilitas dan atau rumah ibadah bagi kaum Muslim di Kota Satelit Kebayoran Jakarta Raya yang salah satu syaratnya, penerima dana sosial tersebut harus berupa badan hukum, empat belas tokoh yang hadir pada pertemuan di kantor Pimpinan Pusat Masyumi, bersepakat mendirikan badan hukum berbentuk Yayasan dengan nama Yayasan Pesantren Islam.
Pada Senin, 7 April 1952, oleh Soedirdja, Tan In Hok, dan Ghazali Sjahlan, kesepakatan itu dibawa ke Notaris Raden Kadiman dan dicatat dalam Akte Notaris No. 25. Tanggal 7 April 1952 selanjutnya disepakati menjadi hari kelahiran Yayasan Pesantren Islam (YPI).
Empat belas tokoh yang bertemu di kantor Masyumi yang mendirikan YPI itu pula yang untuk pertama kalinya menjadi pengurus YPI. Mereka
membagi tugas seperti berikut: Soedirdja dan H. Sju'aib Sastradiwirja masing-masing menjadi Ketua dan Wakil Ketua; Ghazali Sjahlan, Abdulah Salim, dan Hariri Hady masing-masing menjadi Sekretaris I, Il, dan Ill; serta Tan In Hok menjadi Bendahara. Sedangkan Rais Chamis, Ganda, Kartapradja, Sardjono, Sulaiman Rasyid, Ja'cob Rasjid, Hasan Algubie, dan Faray Matak menjadi Pembantu.
Kepengurusan periode pertama ini dilengkapi dengan Badan Komisaris yang berkewajiban memberi nasihat, petunjuk, dan pengawasan terhadap pekerjaan pengurus YPI. Sesuai dengan Anggaran Dasar YPI, Badan Komisaris berhak menegur dan memanggil pengurus jika dianggap melanggar.
Anggota Badan Komisaris terdiri alas tiga orang, yakni Mr. Kasman Singodimedjo(1902-1982), Mr. R. Sindian Djajadiningrat, dan Dr. Abu Hanifah (1906-1981). Selain dilengkapi dengan Badan Komisaris, YPI memiliki pula penasihat yaitu Walikota Jakarta Raya, Sjamsuridjal.
Prestasi utama kepengurusan periode Soedirdja ini ialah keberhasilan memperoleh tanah seluas 43.775 meter persegi di Blok K-1, Persil No. 2, Kelurahan Selong, Jalan Sisingamangaraja, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Di a tas tanah tersebut kemudian dibangun Masjid Agung Kebayoran yang selesai pada 1958, dan pada 1960 oleh Syaikh al-Azhar, Kairo, Mesir, diberi nama sesuai dengan nama perguruan tinggi Islam tertua di dunia, Al-Azhar.
Yang penting dicatat, meskipun gagasan awal membangun Masjid Agung Kebayoran Baru datang dari pemerintah, dalam hal ini Walikota Jakarta Siamsuridjal, akan tetapi sumber dana pembangunan masjid itu adalah dari masvarakat, terutama umat Islam, karena pemerintah Jakarta Raya Saat itu tidak memiliki dana untuk membangun masjid. Harian Abadi,
surat kabar milik Masyumi, membuka dompet amal pembangunan Masjid Agung Kebayoran Baru dari pembacanya di seluruh penjuru Nusantara.Sebagai demikian, dengan rendah hati kita dapat mengatakan bahwa Masjid Agung Al-Azhar bukanlah milik orang Jakarta, atau apalagi milik orang Kebavoran Baru saja. Masjid Agung Al-Azhar adalah milik seluruh umat Islam Indonesia.
Ketika pembangunan lantai satu selesai, pembangunan Masjid Agung terpaksa dihentikan, karena Panitia kehabisan dana. Saat itulah, Panitia menghubungi K.H. Muhammad lljas, Menteri Agama pada Kabinet Boerhanoeddin Harahap (17 Agustus 1955-24 Maret 1956) untuk meminta bantuan. Dan Menteri Agama memberi bantuan sebesar Rp 2,5 Juta. Berkat
bantuan Menteri Agama K.H.Muhammad Iljas, pembangunan Masjid Agang dilanjutkan.
Setelah Masiid Agung selesai dibangun, YPI membentuk Takmir (harfiah mereka yang bertugas memakmurkan) Masjid. Untuk Takmir Masiid periode 1958-1963, Yayasan menetapkan H. Hasan Nasir sebagai Ketua, Gusti Abdul Muis sebagai Wakil Ketua, Dudung sebagai Sekretaris. dan Ny. Anwar Tjokroaminoto sebagai Bendahara.
Ketika masjid masih dalam proses pembangunan, pada 1956 Buya HAMKA membangun rumah tidak iauh dari masjid yang sedang dibangun. Pada pertengahan 1956, Buya HAMKA resmi menempati rumah barunya itu. Sejak tinggal di rumah barunya itu, Buya HAMKA mulai memakmurkan masjid yang sedang dalam tahap penyelesaian itu, dengan melaksanakan shalat berjama'ah. Jama'ah shalat adalah Buya HAMKA selaku imam dengan makmum anak-anak Buya HAMKA ditambah para kuli bangunan yang masih tersisa. Jumlah keseluruhan sekitar sembilan orang.
Dari jama'ah shalat, aktivitas Masjid Agung dari hari ke hari makin semarak karena Buya HAMKA menyelenggarakan dan memimpin Kuliah Subuh, konsultasi keagamaan, dan sebagainya. Karena ketekunannya membina jama'ah Masjid Agung, maka sejak 1963 para jamaah bersama Pengurus Masjid Agung Al-Azhar mendaulat dan menyebut Buya HAMKA
sebagai Imam Besar Masjid Agung Al-Azhar. Sebutan yang terus melekat pada diri Buya HAMKA sampai beliau wafat.
Di masa ini pula mulai diselenggarakan pendidikan informal di lingkungan Masjid Agung berupa pengajian anak-anak di sore hari. Maka semakin makmurlah Masiid Agung yang dibangun dengan biaya sekitar Rp 6.5.00.000,00 (enam juta lima ratus ribu rupiah) itu.
Kepemimpinan Soedirdja dalam YPI Al-Azhar dapat dikatakan sebagai periode konsolidasi organisasi, wawasan, dan kegiatan YPI.




Buku : Enam Puluh Tahun YPI Al Azhar (7 April 1952 - 7 April 2012)
Bab : II
Penulis : Lukman Hakiem

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Dari Masa ke Masa | Periode Soedirdja"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel