Dari Masa ke Masa | Periode Prof. Dr. HAMKA/Mr. Sjafruddin Prawiranegara


Buya Hamka
Ketua Umum YPI Al Azhar



Pada 1975, periode kepemimpinan Anwar Tjokroaminoto berakhir. Tujuh orang tim formatur, yakni Prof. Dr. HAMKA, Mr. Sjafruddin
Prawiranegara, K.H. Hasan Basri, Ir. H.M. Sanusi, K.H. Abdullah Salim, R.H. Soerojo Wongsowidjojo SH, dan H. Rusydi Hamka bersepakat memilih Prof. Dr. HAMKA menjadi Ketua YPI Al-Azhar.
Buya HAMKA yang bernama asli Haji Abdul Malik Karim Amrullah (1908-1981) adalah tokoh multitalenta yang unik. Dia sendiri tidak ikut dalam proses awal pembentukan YPI Al-Azhar, akan tetapi nama besarnya melekat pada badan hukum itu. Setiap menyebut nama HAMKA, asosiasi kita langsung melekat kepada YPI dan Masjid Agung Al-Azhar. HAMKA sendiri tampaknya memang benar-benar jatuh hati kepada Al-Azhar. Karya fikir utama HAMKA berupa Tafsir Al-Quran diberi judul Tafsir Al-Azhar.
Di bawah kepemimpinan Buya HAMKA dibantu sejumlah nama besar seperti Mr. Sjafruddin Prawiranegara (1911-1989), dan K.H. Hasan Basri
(1920-1998) YPI Al-Azhar memasuki babak baru.
Di masa Buya HAMKA, pada 1976 didirikan Sekolah Menengah Umum (SMU, kini Sekolah Menengah Atas) Islam Al-Azhar, melengkapi jalur, jenjang, dan jenis pendidikan yang telah diselenggarakan oleh Y PI Al-Azhar.
Maka, pusat perhatian YPI Al-Azhar di bawah kepemimpinan Buya HAMKA adalah menjaga dan meningkatkan kualitas pelayanan di segala bidang dengan tingkat akuntabilitas yang mumpuni. Hasilnya adalah, tingginya minat membuka lembaga pendidikan Al-Azhar di berbagai daerah.
Jika di masa Anwar Tjokroaminoto, lembaga pendidikan/ sekolah berada di bawah naungan pengurus Masjid Agung Al-Azhar, mulai periode Buya HAMKA ini, tepatnya mulai 1977, terjadi pengembangan struktur kepengurusan. Kegiatan YPI Al-Azhar dibagi menjadi dua bagian, yaitu Bagian Masjid Agung Al-Azhar yang diketuai oleh Amriel Radjomentari,
dan Bagian Pendidikan yang diketuai oleh Muchtar Zakaria.
Di masa ini muncul gagasan membentuk perguruan tinggi di bawah naungan YPI Al-Azhar. Sebagai tindak lanjut dari gagasan dan keinginan itu, pada periode 1400-1403/1980-1983, dibentuk suatu wadah bernama "YPI Bagian Perguruan Tinggi, Akademi, dan Kursus Al-Azhar".
Takdir tidak dapat dipungkiri. Di tengah harapan besar bagi pesatnya perkernbangan YPI Al-Azhar di bawah kepemimpinan Buya HAMKA, ulama-pujangga itu pada 14 Juli 1981 berpulang ke rahmatullah. Kepergian Buya HAMKA memang menggoreskan Iuka cukup mendalam dan menorehkan duka mendalam di kalangan kaum Muslim, khususnya YPI Al-Azhar, akan tetapi sebagai umat yang beriman kepada Allah subhanahu wa ta'ala, kaum Muslim dan keluarga besar YPI Al-Azhar sadar betul bahwa pemimpin bahkan nabi dan rasul pun boleh datang dan pergi namun umat pelanjut jejak risalah tauhid harus terus berjalan 'alaa shirath al mlustaqim (di atas jalan yang lurus).
Atas dasar itu, YPI Al-Azhar menetapkan Ketua
I, Mr. Sjafruddin Prawiranegara melanjutkan kepemimpinan Buya HAMKA. Akan tetapi, keikutsertaan Sjafruddin menandatangani Pernyataan Keprihatinan bersama 49 tokoh
nasional, menyebabkan ruang gerak Sjafruddin tidak leluasa.
Pernyataan Keprihatinan tertanggal 5 Mei 1980 yang populer dengan sebutan Petisi 50 k arena ditandatangani oleh 50 orang warga negara itu sesungguhnya sekadar respon terhadap dua pidato Presiden Soeharto mengenai Pancasila yang disarnpaikan pada Rapat Pimpinan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Rapim ABRI) di Pekanbaru, dan pada ulang tahun Korps Pasukan Sandi Yudha (Kopasandha, kini Korps Pasukan Khusus, Kopasus). Respon itu pun tidak disampaikan di sembarang tempat, melainkan di lembaga terhormat, Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DVR-RI).
Salah seorang penandatangan Petisi 50, A.M. Fatwa mencatat, dari Sisi para pendandatangan, dapatlah dikatakan setelah Persatuan Perjuangan pimpinan Tan Malaka di awal kemerdekaan, yang beranggotakan 143 organisasi sosial dan politik, inilah sebuah pernyataan bersama yang para penandatangannya mencakup seluruh spektrum politik di tanah air dan mampu mempertautkan kembali jalinan silaturahim sejumlah tokoh nasional, negarawan, politisi senior, kalangan sipil, kalangan militer, kalangan tua, dan kalangan muda.
Aneh dan sungguh-sungguh di luar dugaan, reaksi pemerintah terhadap Petisi 50 amat sangat keras. Para penandatangan Petisi 50 itu dibunuh hak-hak sipilnya: tidak boleh menjadi pegawai negeri sipil (PNS), tidak boleh mendapat kredit dari Bank, tidak boleh mengerjakan proyek pemerintah, bahkan tidak boleh berada satu atap dengan Presiden dan Wakil Presiden.
Menyadari situasi yang tidak menguntungkan bagi perkembangan YPI Al-Azhar, Ketua Pemerintah Darurat Republik Indonesia (19 Desember 1948-13 Juli 1949) itu melepaskan jabatannya sebagai Ketua YPI Al-Azhar meskipun Sjafruddin tetap aktif sebagai anggota Badan Pengurus YPI Al-Azhar.
Sjafruddin Prawiranegara yang lebih takut kepada Allah subhanahu wa ta'ala itu sampai akhir hayatnya tidak pernah meninggalkan YPI Al-Azhar.



Buku : Enam Puluh Tahun YPI Al Azhar (7 April 1952 - 7 April 2012)
Bab : II
Penulis : Lukman Hakiem

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Dari Masa ke Masa | Periode Prof. Dr. HAMKA/Mr. Sjafruddin Prawiranegara "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel