Dari Masa ke Masa | Periode H. Anwar Tjokroaminoto


H. Anwar Tjokroaminoto
Ketua YPI Al-Azhar


Setelah bekerja keras meletakkan landasan bagi perjalanan YPI, pada 1963 Soedirdja dan kawan-kawan mengakhiri pengabdiannya dan menyerahkan tanggung jawab kepemimpinan YPI --yang kini telah bernama lengkap YPI Al-Azhar-- kepada seorang tokoh pejuang nasional, H. Anwar Tjokroaminoto (1909-1975). Sekretaris YPI Al-Azhar dipercayakan kepada Mayor (TNI-AD) H. Amiruddin Siregar.
Di masa kepemimpinan Anwar Tjokroaminoto ini, Ny. Fatmawati Soekarno duduk sebagai pelindung YPI Al-Azhar. Yayasan juga didampingi Ketua YPI Al-Azhar dua penasihat hukum, yaitu Hasjim Mahdan SH, dan RF. Soerojo Wongsowidjojo SH.
Era kepemimpinan Anwar Tjokroaminoto, 1963-1975, adalah puncak sekaligus akhir dari era kepemimpinan Presiden Soekarno dan masa konsolidasi Orde Baru di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto, Kepemimpinan Presiden Soekarno yang progressif revolusioner, ditandai dengan hilangnya kekuatan politik penyeimbang
yang berani bersikap kritis kepada sang Pemimpin Besar Revolusi. Nyaris semua kekuatan politik di Tanah Air, bergerak di bawah wibawa dan bayang-bayang Bung Karno.
Dalam kaitan inilah kita harus melihat mengapa Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang sedang diganyang berbagai kalangan, --bahkan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) dan antek-anteknya diminta untuk dibubarkan karena dianggap merupakan onderbouw Masyumi-- pada tahun 1963 itu justeru menyelenggarakan kongresnya di kompleks Masjid Agung Al-Azhar yang saat itu masih sangat terbatas sarana dan prasarananya.
Kongres VII dan Pekan Dakwah HMI diselenggarakan pada tanggal 8 sampai 14 September 1963 diikuti oleh 26 dari 41 cabang dengan peserta 350 orang. Peristiwa besar di tengah desakan kuat kaum komunis agar HMI dibubarkan, dapat berlangsung dengan aman dan selamat di kompleks Masjid Agung Al-Azhar, untuk sebagian tentulah tidak dapat dipisahkan dari fakta bahwa Ketua YPI Al-Azhar saat itu adalah H. Anwar Tjokroaminoto.
Seperti diketahui, di tengah desakan kuat agar HMI dibubarkan, PSII menyatakan simpatinya kepada HMI. Dalam kapasitasnya selaku Ketua PSII, Anwar Tjokroaminoto menuntut agar tindakan keras diambil terhadap musuh-musuh HMI. Meskipun sikap Anwar Tjokroaminoto itu diungkapkan pada pertengahan 1965, akan tetapi sikap simpati PSII dan Anwar Tjokroaminoto kepada HMI niscayalah sudah terbayang sejak permulaan.Sikap politik seperti itu, tidak mungkin datang secara tiba-tiba.
Kongres VII dan Pekan Dakwah HMI, berlangsung aman dan selamat di kompleks Masjid Agung Al-Azhar, antara lain berkat payung politik Anwar Tjokroaminoto yang cukup berwibawa dan disegani oleh kawan dan lawan. Faktor militer aktif sebagai sekretaris, juga menambah kuat wibawa YPI Al-
Azhar. Penting juga dicatat, di masa itu Amiruddin Siregar adalah salah seorang muballigh ternama yang sikapnya sangat kritis terhadap Orde Lama.
Di masa duet kepemimpinan Anwar Tjokroaminoto-Amiruddin Siregar, Al-Azhar menjadi markas berbagai aktivitas Islam seperti HMI, Pelajar Islam Indonesia (PII), dan Himpunan Seni Budaya Islam (HSBI).
Nurcholish Madjid yang sekitar enam tahun tinggal di asrama Masjid Agung Al-Azhar mencatat, di tengah dominasi PKI yang sangat kuat di lingkaran kekuasaan Presiden Soekarno, melalui Amiruddin Siregar yang bertugas di bagian penerangan TNI-AD, militer membangun aliansi alternatif dengan kelompok Islam. Kalangan TNI-AD menjadikan Masjid Agung Al-Azhar sebagai pusat pelatihan para imam tentara dengan dukungan dari perwira-perwira Islam seperti Menteri Koordinator Pertahanan dan Keamanan/ Kepala Staf Angkatan Bersenjata (Menko Hankam/KASAB) Jenderal Abdul Haris Nasution dan Kepala Pusat Rohani Islam TNI-AD, Kolonel M. Muchlas Rowi.
Pada permulaan Orde Baru, Masjid Agung Al-Azhar menjadi tuan rumah tasyakkur atas bebasnya para pemimpin umat dan bangsa seperti M. Natsir, Prawoto Mangkusasmito, Buya HAMKA, Assaat, dan Mochtar Lubis dari tahanan rezim Orde Lama.
Di masa kepemimpinan Anwar Tjokroaminoto ini pula pada 1963 pendidikan informal berupa pengajian anak-anak di sore hari, ditingkatkan menjadi pendidikan nonformal berupa Sekolah Islam Sore, sejenis Madrasah Diniyah yang kelak diberi nama Pendidikan Islam Al-Azhar (PIA). Seperti ditulis oleh Badan Pengurus Y PI Al-Azhar periode 2002-2007, PIA adalah salah satu kegiatan pendidikan nonformal yang bernaung di lingkungan pendidikan Y PI Al-Azhar, yang merupakan cikal bakal berdirinya lembaga pendidikan formal yang sekarang telah berkembang pesat dari TK1 hingga perguruan tinggi.
Pada masa awal berdirinya sekolah di lingkungan Al-Azhar, lembaga pendidikan itu merupakan bagian dari kegiatan Pengurus Masjid Agung Al-Azhar yang diketuai oleh Amriel Radjomentari dan Darius Fachruddin sebagai bendahara. Dua orang inilah perintis sekaligus pengawal di masa awal pertumbuhan pendidikan formal Al-Azhar sampai berdirinya SMA Islam Al-Azhar pada 1976.
Tahun berikutnya, yakni pada awal Agustus 1964, dibuka Taman Kanak- kanak (TK) Islam dan Sekolah Dasar (SD) Islam Al-Azhar. Lantas pada 1971 didirikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Islam Al-Azhar. Pada periode inilah YPI Al-Azhar mendapat bantuan berupa gedung sekolah dari Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya, Ali Sadikin.
Di bawah kepemimpinan Anwar Tjokroaminoto, YPI Al-Azhar makin menegaskan jatidirinya sebagai badan hukum yang menaruh kepedulian tinggi terhadap masalah-masalah umat dan bangsa. Jatidiri yang tetap melekat hingga hari ini. Insya Allah sampai kapan pun.



Buku : Enam Puluh Tahun YPI Al Azhar (7 April 1952 - 7 April 2012)
Bab : II
Penulis : Lukman Hakiem
Mohon Dukunganya Bantu berikan dukungan jika artikelnya dirasa bermanfaat. karna bantuan anda membuat kami bersemangat menulis di blog https://www.al-azhar.web.id/. Terima kasih.
Newer Posts Newer Posts Older Posts Older Posts

More posts

Comments

Post a Comment